So, this is me. The ambitious side of me.
Sedang gencar-gencarnya mengincar sesuatu: Regional Relations Officer APRO RWG 2012-2013
And then?
Kalo udah jadi mau apa? Bekerja semaksimal mungkin, yes that's your responsibility of course.
The other part? Happy? Just happy? You've spent too much cost to run this position. So, you're happy?
Yes, I am happy for my achievement. Alhamdulillah
Monologue
Kamis, 26 Juli 2012
Senin, 08 Agustus 2011
the missing one
Well, I almost tried to reach you via everything, through your email, yahoo! messenger, and so on
I know, I know, most of people tell us to get a distance, but then this is what I'm feeling almost all day
Empty
I tried to online every hours I could, but you were offline
I tried to email you, but you haven't replied it yet
Where are you?
All I can do is waiting for you.
Waiting you buzz my yahoo! messenger
Waiting you reply my email
I miss to have an unimportant chat with you
Every single day, dearest best friend
I know, I know, most of people tell us to get a distance, but then this is what I'm feeling almost all day
Empty
I tried to online every hours I could, but you were offline
I tried to email you, but you haven't replied it yet
Where are you?
All I can do is waiting for you.
Waiting you buzz my yahoo! messenger
Waiting you reply my email
I miss to have an unimportant chat with you
Every single day, dearest best friend
Kamis, 21 April 2011
Pelayanan Kesehatan Indonesia, punya siapa?
negara tetangga kita, singapura dan malaysia sudah mulai mengembangkan sebuah pariwisata, tetapi pariwisata yang ini bukan pariwisata panorama, ini "pariwisata kesehatan". sering kan kita denger kerabat, atau teman orang tua kita sedang sakit terus dirawatnya yaa paling terkenal di "Mt. Elizabeth" siapa sih yang engga pernah dengar Mt. Elizabeth? pertama gue sendiri ngira okelah ya, kesana pasti karena teknologi kesehatannya lebih canggih. tetapi mereka ternyata engga memajukan dalam konsep teknologi saja, tetapi dari segi pelayanannya, yang benar2 kena di hati setiap pasiennya.
gue juga baru memerhatikan setelah salah satu keluarga gue mulai berobat kesana, memang, untuk segi teknologi mereka jauh lebih jago, terapi yang mereka lakukan tingkatannya lebih dewa dari terapi tercanggih yang ada di Indonesia sekarang. tapi, pelayanan kesehatannya itu, gimana cara dokternya konseling, gimana cara apotekernya juga melakukan konseling, inilah yang gue perhatikan:
- waktu itu gue lagi nungguin dokternya yang masih konsultasi dengan pasien lain, setelah pasien keluar, dokternya juga keluar, dan dia masih nyempetin ngobrol2 sama pasien di ruang tunggu, sekitar 4-5 orang, termasuk gue, untuk sekedar menanyakan kabar dan "izin ke toilet sebentar" nah loh, even that simplest way of communicating (or counseling), they really do it. padahal, ibaratnya orang mikirnya yaudah, keluar mah keluar aja rebek amat sampe datengin pasien satu-satu segala
- kedua, sewaktu masuk untuk konsultasi, sang pasien diminta dokter untuk berbaring, kemudian apa yang dilakukan dokternya, mereka berdiri, dan berkata "bapak duduk saja, let me take off your shoes and socks" gue meringis, ada loh dokter yang mau mencopot sepatu dan kaos kaki sang pasien, sementara, ini beberapa komentar yang dilontarkan oleh bukan saya, oleh mereka yang telah merasakan perbedaan antara pelayanan kesehatan di Indonesia dan negara tetangga. mereka mengatakan: "kalau konseling di Indonesia itu ibaratnya pasien itu bodoh banget ga ngerti apa2, mereka merasa pintar sendiri", "dokter di Indonesia itu pengennya kerja cepat2, sampai kadang salah diagnosis",mungkin, kenapa dokter terburu-buru karena dokter di Indonesia itu tidak hanya memegang satu rumah sakit, banyak yang memegang 2-3 rumah sakit, sementara di singapur, satu dokter ya satu rumah sakit aja sampe gelonjotan, karena sistem disana juga sih yang mereka punya satu klinik mungkin mereka sewa di rumah sakit itu, jadi ya plangnya pun ya udah terpaku untuk si dokternya tersebut. tapi memang yang engga gue ngerti, kenapa bisa ada kebijakan dokter di Indonesia bisa megang 2-3 rumah sakit? emang sempat gue baca, di Indonesia itu perbandingan antara dokter dan pasien adalah 1:1200 jadi, satu dokter itu memiliki 1200 pasien! ya ya yaaa.....
- dari apotekernya, ini looh yang buat gue getol banget. di sebuah instalasi bernama "Pharmacy" setelah resep diberikan dan obat dikeluarkan, disitu keluar seseorang yang membawakannya dengan senyuman dan pancaran sinar *kelewat lebay* dan bertuliskan name tag, namanya lupa, tapi tulisannya "Pharmacist" kemudian dia menjelaskan, tentang aturan minum obatnya, hingga ada sebuah obat yang memang belum ada disitu, tapi dia menyarankan untuk menunggu dulu keesokan harinya diantar ke hotel tempat kami menginap. luar biasa, dia sendiri yang memberikan konsultasi sama pasiennya, sementara disini, jarang sekali menemukan apoteker sendiri yang memberi obat dan konselingnya, biasanya petugas resepnya aja (sedih)
- selanjutnya, gue membawa sebuah pamflet mengenai sebuah obat penurun kolesterol yang dibuat oleh ikatan farmasis negara itu, atau artikel tentang mencuci tangan, pokoknya semua tentang obat-obatan yang digunakan semuanya dibuat oleh farmasis, di rumah sakit disini, saya belum menemukan satupun sebuah informasi kesehatan yang dibuat farmasis.
- terus, saya memperhatikan sebuah perbedaan, yang sebetulnya simpel, tapi ini yang bisa mengubah paradigma masyarakat. sebuah kantong plastik obat. dalam semua kantong plastik obat, di negara kita semuanya bertuliskan "jika sakit berlanjut, hubungi Dokter" dan dalam kantong plastik obat negara tetangga "Ask your Pharmacist for professional advice on your medication" sesimpel itu, bisa mengubah segalanya, ibaratnya kalau kita ga sembuh, yang biasa kita lakukan adalah ke dokternya lagi dan kemudian mengulangi prosedurnya dari registrasi-menunggu-konsultasi-pemberian resep-menunggu-pengambilan obat baru. sementara di sana, ya kalau merasa obatnya engga cocok, telfon atau tanya dulu apotekernya, jadi pasien tidak perlu melakukan semua prosedur dari awal, tinggal telfon dulu, dan jika perlu ada perubahan obat atau sebagainya, baru ke dokter kembali untuk pastinya.
gue engga bilang segitu bobroknya pelayanan kesehatan indonesia. gue juga mengalami beberapa konsultasi yang menurut gue sangat worth dan memuaskan, yaitu saat dokternya melakukan diagnosis benar2 melalui bagan dia menjelaskan ke gue, masuk klasifikasi sakit apa gue hingga dia mendiagnosis gue terkena infeksi- oleh virus- pada saluran pernafasan karena gejala-gejala yang gue sebutkan. ini penting loh, karena ada teman gue yang ternyata didiagnosis TB kemudian dia sudah melakukan perawatan selama kurang lebih 7 bulan, kemudian setelah dikonsultasikan kembali ternyata dia tidak mengalami TB, ain't that pathetic?
jangan sampai deh peristiwa itu terjadi lagi, memang, buat kita masih lama buat jadi dokter, apoteker atau ahli gizi, masih panjang perjalanan, namun yang nanti ambil andil dalam itu semua 5-10 tahun ke depan adalah kita semua, gue-temen2 sejawat gue di kedokteran, kesehatan masyarakat dan farmasi-dan calon teman-teman sejawat dari kedokteran-kesehatan masyarakat-dan farmasi, sebagai pemegang kebijakan serta pelaksana pelayanan kesehatan Indonesia.
Rabu, 04 Agustus 2010
TADINYA
mumpung di Jakarta, jadi hari ini emang rencananya mau beli buku2 untuk semester tiga (geez). yak, sudah tingkat dua juga akhirnya, jadi mulailah gue berkutat dengan ilmu "farmasi" sesungguhnya hahaha. buku pertama yang gue incer adalah ditujukan kepada Matkul "Anatomi Fisiologi Manusia" kenapa? karena, menurut gue untuk mencari buku ini pasti lebih mudah ketimbang mata kuliah lainnya kayak farmasi fisika atau botani farmasilah.
ok, jadi sebelumnya gue benar2 blank enggak tahu mesti nyari kemana itu buku, yah estimasi awal sih dimana lagi selain di Gramedia? ok, jadi akhirnya gue sms kakak senior yang udah tingkat tiga, ternyata, untuk beli buku yang judulnya "Fundamental Anatomy and Physiology" karangan Martini itu belinya di Medical Bookstore di FKUI Salemba.
......... sejenak gue langsung berpikir lagi, FKUI ya, hahaha, everybody's dream. termasuk gue. yah, jadi inget gimana dari dulu SMP memang pengennya yaa di kedokteran, dan maunya FKUI. dan mulai masuk jenjang SMA, semakin tinggilah itu namanya pengen banget tembus FKUI, bisa kuliah disana, bisa menuntut ilmu disana, bisa jadi sarjana dokter lulusan sana...
hmm baiklah, jadi perjalanan ke toko buku yang ada di dalam kampus itu pasti bakal membuka impian lama gue yang sudah semakin memudar-- ya tapi pasti jadinya pengen dan agak jealous sih sama orang-orang yang sepanjang gue menuju ke bookstore itu, gue melihat mereka banyak yang lagi pakai jas dokter, ataupun jakun UI dengan makara hijaunya, wiih sempet ngirii gimanaa gitu hehe. tapi terus gue mikir, lah gue udah jadi anak Farmasi ITB gitu, yaudahlahya, masih satu rumpun juga sama sama di bidang ilmu kesehatan juga kan?
tapi kenyataanya, waktu masuk gerbang depannya aja, udah ngerasa "ya gue kan juga tadinya mau masuk sini tapi gagal :p" minder lagi deh. doh.
dulu, waktu awal masuk ITB gue masih banyak kepikiran tentang FKUI, terutama rasa penasaran gue tentang :
kenapa gue gak bisa tembus FKUI? kenapa ya, disaat banyak yang mau masuk FKUI dengan tujuan mau benar2 mengabdi pada masyarakat, tapi pada kenyataannya banyak yang akhirnya keterima adalah mereka mereka yang cuma pengen jadi dokter, tapi sebetulnya banyak dari mereka yang masih belum punya rasa kepekaan sosial yang tinggi, rasa ingin mengabdi kepada masyarakat yang tinggi malah ada disana?
gue dari dulu pengen jadi dokter gak cuma sekedar,- pengen jadi dokter supaya gampang cari kerjanya, enggak repot, kerjaan udah jelas bakal jadi apa, masih bisa ngurusin yang lain lainnya juga--- dsb dsb
tapi emang lebih ke arah, oh, kalau gue jadi dokter, gue memang benar2 mau mengabdi kepada masyarakat, gue mau menolong orang-orang yang membutuhkan perawatan medis.
dan sekarang, dimana gue berada? yak, Sekolah Farmasi ITB.
pasti banyak orang - orang yang menanyakan dan berpikiran, kenapa sih Farmasi? gak kesampean jadi dokter ya? kalau denger itu rasanya........... ingin aku menelannya hahaha tapi emang realita yang sesungguhnya-- kalau untuk gue loh ya-- masuk farmasi karena emang ga tembus kedokteran hahaha.
yah, beberapa bulan setelah masuk farmasi juga sempet kepikiran, kenapa dulu gue gak coba aja untuk ke FK UNPAD, FK UNAIR atau FK UNIBRAW? kenapa gue sangat bersikeras hanya ingin FKUI? mungkin kalau gue ke FK lain, mungkin, sekarang gue sedang disana sudah belajar anatomi manusia dan segalanya dari kenyataan yang sekarang gue harus berhadapan dengan farmasi fisika, botani farmasi, kimia organik, dsb dsb.
mungkin untuk sekarang, satu yang menjadi kepercayaan gue adalah, bahwa Tuhan memang sudah menetapkan jalan setiap individu pada masing-masing, sekarang tinggal bagaimana kita membuat jalan ini lebih berarti dan berkualitas setiap waktunya untuk kita lewati sendiri.
toh, gue di farmasi bukan berari gue tidak bisa menolong masyarakat secara luas. malah gue bisa menolong masyarakat luas dan dokter-dokternya juga. coba, mana ada pasien cuma mau didiagnosis aja? pasti kan harus dapet obat juga haha, disinilah, gue juga dituntut untuk bisa memonopoli sang dokter untuk memilih obat yang berkualitas untuk nantinya diteruskan kepada pasien-pasiennya, kalo ga ada apoteker? darimana para dokter bisa mendapat izin untuk memegang kuasa atas suatu obat? belum lagi kalau operasi, ada obat bius juga
dan yang lebih gue syukuri adalah, bidang keilmuan farmasi ga cuma berkutat di obat-obatan aja nantinya, maaf ya untuk yang mikir farmasi hanya obat-obatan saja, masih banyak loh kayak kosmetik, terus produk produk makanan, minuman, jamu, obat2an tradisional, herbal, bahkan bioteknologi juga ada di program keilmuan farmasi. wah bener2 deh malah sekarang gue bingung buat nantinya gue mau fokus ke program studi apa :D
ok, sekarang buat gue, bukan waktunya lagi untuk menyesali dan malah berangan-angan dan terus memikirkan kenapa enggak bisa di Kedokteran, tapi yang sekarang adalah gimana gue bisa memanfaatkan semua yang sudah gue miliki sekarang,
dan artinya... ok, gue harus bersiap-siap untuk semester tiga ini, gue sudah siap untuk menghadapi kejamnya Botani Farmasi yang bisa membuat Indeks Prestasi nauk-turun, Anatomi Fisiologi yang bakalan banyak praktikum, ribetnya Kimia Organik dan Farmasi Fisika, dan gimana juga harus bisa menyeimbangkan dengan sibuknya kepanitiaan sana sini
Langganan:
Postingan (Atom)