gue juga baru memerhatikan setelah salah satu keluarga gue mulai berobat kesana, memang, untuk segi teknologi mereka jauh lebih jago, terapi yang mereka lakukan tingkatannya lebih dewa dari terapi tercanggih yang ada di Indonesia sekarang. tapi, pelayanan kesehatannya itu, gimana cara dokternya konseling, gimana cara apotekernya juga melakukan konseling, inilah yang gue perhatikan:
- waktu itu gue lagi nungguin dokternya yang masih konsultasi dengan pasien lain, setelah pasien keluar, dokternya juga keluar, dan dia masih nyempetin ngobrol2 sama pasien di ruang tunggu, sekitar 4-5 orang, termasuk gue, untuk sekedar menanyakan kabar dan "izin ke toilet sebentar" nah loh, even that simplest way of communicating (or counseling), they really do it. padahal, ibaratnya orang mikirnya yaudah, keluar mah keluar aja rebek amat sampe datengin pasien satu-satu segala
- kedua, sewaktu masuk untuk konsultasi, sang pasien diminta dokter untuk berbaring, kemudian apa yang dilakukan dokternya, mereka berdiri, dan berkata "bapak duduk saja, let me take off your shoes and socks" gue meringis, ada loh dokter yang mau mencopot sepatu dan kaos kaki sang pasien, sementara, ini beberapa komentar yang dilontarkan oleh bukan saya, oleh mereka yang telah merasakan perbedaan antara pelayanan kesehatan di Indonesia dan negara tetangga. mereka mengatakan: "kalau konseling di Indonesia itu ibaratnya pasien itu bodoh banget ga ngerti apa2, mereka merasa pintar sendiri", "dokter di Indonesia itu pengennya kerja cepat2, sampai kadang salah diagnosis",mungkin, kenapa dokter terburu-buru karena dokter di Indonesia itu tidak hanya memegang satu rumah sakit, banyak yang memegang 2-3 rumah sakit, sementara di singapur, satu dokter ya satu rumah sakit aja sampe gelonjotan, karena sistem disana juga sih yang mereka punya satu klinik mungkin mereka sewa di rumah sakit itu, jadi ya plangnya pun ya udah terpaku untuk si dokternya tersebut. tapi memang yang engga gue ngerti, kenapa bisa ada kebijakan dokter di Indonesia bisa megang 2-3 rumah sakit? emang sempat gue baca, di Indonesia itu perbandingan antara dokter dan pasien adalah 1:1200 jadi, satu dokter itu memiliki 1200 pasien! ya ya yaaa.....
- dari apotekernya, ini looh yang buat gue getol banget. di sebuah instalasi bernama "Pharmacy" setelah resep diberikan dan obat dikeluarkan, disitu keluar seseorang yang membawakannya dengan senyuman dan pancaran sinar *kelewat lebay* dan bertuliskan name tag, namanya lupa, tapi tulisannya "Pharmacist" kemudian dia menjelaskan, tentang aturan minum obatnya, hingga ada sebuah obat yang memang belum ada disitu, tapi dia menyarankan untuk menunggu dulu keesokan harinya diantar ke hotel tempat kami menginap. luar biasa, dia sendiri yang memberikan konsultasi sama pasiennya, sementara disini, jarang sekali menemukan apoteker sendiri yang memberi obat dan konselingnya, biasanya petugas resepnya aja (sedih)
- selanjutnya, gue membawa sebuah pamflet mengenai sebuah obat penurun kolesterol yang dibuat oleh ikatan farmasis negara itu, atau artikel tentang mencuci tangan, pokoknya semua tentang obat-obatan yang digunakan semuanya dibuat oleh farmasis, di rumah sakit disini, saya belum menemukan satupun sebuah informasi kesehatan yang dibuat farmasis.
- terus, saya memperhatikan sebuah perbedaan, yang sebetulnya simpel, tapi ini yang bisa mengubah paradigma masyarakat. sebuah kantong plastik obat. dalam semua kantong plastik obat, di negara kita semuanya bertuliskan "jika sakit berlanjut, hubungi Dokter" dan dalam kantong plastik obat negara tetangga "Ask your Pharmacist for professional advice on your medication" sesimpel itu, bisa mengubah segalanya, ibaratnya kalau kita ga sembuh, yang biasa kita lakukan adalah ke dokternya lagi dan kemudian mengulangi prosedurnya dari registrasi-menunggu-konsultasi-pemberian resep-menunggu-pengambilan obat baru. sementara di sana, ya kalau merasa obatnya engga cocok, telfon atau tanya dulu apotekernya, jadi pasien tidak perlu melakukan semua prosedur dari awal, tinggal telfon dulu, dan jika perlu ada perubahan obat atau sebagainya, baru ke dokter kembali untuk pastinya.
gue engga bilang segitu bobroknya pelayanan kesehatan indonesia. gue juga mengalami beberapa konsultasi yang menurut gue sangat worth dan memuaskan, yaitu saat dokternya melakukan diagnosis benar2 melalui bagan dia menjelaskan ke gue, masuk klasifikasi sakit apa gue hingga dia mendiagnosis gue terkena infeksi- oleh virus- pada saluran pernafasan karena gejala-gejala yang gue sebutkan. ini penting loh, karena ada teman gue yang ternyata didiagnosis TB kemudian dia sudah melakukan perawatan selama kurang lebih 7 bulan, kemudian setelah dikonsultasikan kembali ternyata dia tidak mengalami TB, ain't that pathetic?
jangan sampai deh peristiwa itu terjadi lagi, memang, buat kita masih lama buat jadi dokter, apoteker atau ahli gizi, masih panjang perjalanan, namun yang nanti ambil andil dalam itu semua 5-10 tahun ke depan adalah kita semua, gue-temen2 sejawat gue di kedokteran, kesehatan masyarakat dan farmasi-dan calon teman-teman sejawat dari kedokteran-kesehatan masyarakat-dan farmasi, sebagai pemegang kebijakan serta pelaksana pelayanan kesehatan Indonesia.
Mari ubah Indonesia !
BalasHapus^^